Cerita nyata tentang perjalanan hidup si bocah YOA (Part 1)

Posted on

Kisah ini berasal dari bocah yang bernama (kita sebut saja YOA)

Yoa yang semasa kecilnya lahir dari keluarga yang kekurangan tumbuh menjadi seorang yang mandiri namu kisahnya tak semulus cerita-cerita orang lain yang sukses karena berasal dari keluarga yang serba kekurangan.

Ketika kecil dia sering di tinggal orang tua nya sehingga kurang kasih sayang dari orang tua. semasa kecil dia hidup seperti tanpa beban, tak memikirkan orang tua kemana dan ada dimana, jangan salah faham dulu, orang tua dia sakit dan membutuhkan perawatan lama di rumah sakit, dari dia berumur 4 tahun dia sering sekali ditinggal ayahnya yang harus kerja dan sering sampai tak pulang rumah demi mencari nafkah, sedang kan sang ibu sibuk berjuang dengan penyakitnya itu.

saya lihat YOA anak yang baik tidak macam-macam kepada temannya, hanya saja ketika kecil dia selalu di kucil kan oleh tetangga dan saudara saudara yang lainnya, ketika teman seumurnya sedang belajar bersama yang saya aneh orang tua mereka terkadang tidak mengajak si YOA ikut bergabung bersama anak-anak yang lainnya, kenapa??

saya sendiri pun heran melihatnya padahal dia sama seperti anak lainnya yang membedakan hanya UANG dan Keadaaan ekonomi orang tuanya kenapa hak dia sebagai manusia di bedakan juga!

saya hanya dapat memperhatikannya dan tak sedikitpun ada wajah sedih terpancar dari wajah dia. dalam hatiku berkata “Yoa yang malang andai ada yang bisa aku lakukan pasti sudah ku lakukan sesuatu yang terbaik untukmu” Hatiku menangis tak tertahan kan, saya hanya bisa berdoa agar kelak si bocah akan menjadi anak yang kuat dan SUKSES.

seiring berjalanya waktu saya tak pernah lepas memperhatikan perjalanan hidup si YOA tersebut dan semakin aku memperhatikan semakin banyak yang dapat ku pelajari dari kisah YOA.

Tahun demi tahun kisah YOA bocah tegar ini berlanjut tanpa jarang nya dia mendapat uang jajan dari orang tua dia tak pernah sedikitpun merengek seperti anak lainnya, dia hidup riang bermain dengan anak lainnya tanpa bermanja2 kepada orang tua, saya fikir pada siapa lagi dia harus bermanja-manja. Ketika itu sebenarnya ada satu orang yang sangat menyayangi dia yaitu kakak dari orang tuanya, dia sangat memperhatikan kehidupan YOA meskipun jauh.

Saat Yoa memasuki Sekolah SD seminggu pertama dia sering di antar orang tuanya untuk bersekolah karena harus menempuh jarak yang lumayan berjalan kaki menuju sekolah dan setelah satu minggu kemudian dia sangat cerdas meskipun melewati jalan yang berkelok kelok dalam waktu satu minggu dia hafal untuk menempuhnya. dia bersekolah dengan cukup rajin walaupun terkadang dia tak mau masuk sekolah karena ada sedikit ribut dengan teman sekelasnya, yah namanya juga anak2 pasti ada aja pertengkaran. hidup terus berlanjut YOA malang yang tak pernah mengeluh walaupun jarang sekali dia dapat bekal jajan untuk di sekolah dia tak pernah meringis sedikitpun dia selalu menerima apa adanya.

singkat cerita YOA sudah memasuki kelas 6 SD. setelah 6 SD pun sakit ibunya tak kunung sembuh malah smakin memburuk. ketika dia sedang bercengkrama melepas rindu dengan sang ibu yang lama tinggal dirumah sakit karena membutuhkan perawatan khusus mereka terlihat terasa dekat sekali. pastilah namanya anak dan ibu.

Sang ibu terdengar berkata “nak pengen sekali ibu mengajak kamu jalan-jalan ke mall mengajakmu dan adikmu sekali saja seumur hidup untuk bermain bersama,bersenang-senang bersama bermain mainan bombomcar dan sebagainya disana, ibu sudah menabung beberapa ratus ribu untuk kita nanti bersenang-senang…”

YOA pun terlihat sangat senang sekali dan yang saya heran anak sekecil itu dapat berkata “iya mah.. yang penting mamah sehat dulu” ya tuhan bocah ini membuat hati saya terengut.

wajah sang ibu pun terlihat bahagia di campur heran anaknya berkata begitu. setelah obrolan panjang sang ibupun berkata “nak sekarang kamu sudah kelas 6 SD mamah pengen banget lihat kamu memakai seragam SMP nak” sambil memancarkan wajah bingung sang ibu berkata seperti itu, karena diapun agak kebingungan uang dari mana untuk menyekolahkannya sedangkan biaya iuran SPP SD pun banyak nunggak nya.

 

Seiring waktu berlalu akhirnya YOA pun LULUS sekolah dasar meskipun nilai NEM nya pas-pas an tidak sanggup mencapai sekolah negri setidak nya saya bangga melihat dia lulus.

akhirnya masa pendaftaran SMP YOA datang sang ayah yang kerjanya serabutan dia teteap berusaha memperjuangkan nya untuk sekolah akhirnya dia mengajak YOA ke sang kakak yang selalu memperhatikan YOA. dengan sedikit perbincangan akhir nya sang kakak mau membayarkan uang buat pendaftaran sekolah YOA.

Nasib terus berjalan ketika pada suatu malam ibunya pingsan dan tergeletak di lantai, pada saat itu kira-kira pukul 11 malam YOA harus mencari orang tuanya sendirian ntah kemana dia mencarinya yang pasti dia tahu diamana ayahnya bekerja. YOA pun tak menemukan sang ayah ketika itu diperjalanan dia menatap langit yang penuh bintang dan bulan sambil berkata “Ya Tuhan sembuhkanlah ibuku” sambil menangis dan berjalan di gelapnya malam dia selalu berdoa sambil menangis. setelah dampai di rumah ternyata sang ayah telah datang duluan YOA pun senang dan akhir nya sang ibu di gendong ke atas tempat tidur oleh sang ayah. Betapa tidak adilnya hidup ini yang harus YOA jalani makan pun dia se ada nya terkadang hanya makan dengan garam dan minyak jelantah bekas goreng2 sesuatu YOA tak pernah mengeluh. YOA setiap malam selalu memijat kaki sang ibu yang tengah sakit, kesehatannya pun semakin memburuk.

 

Ketika suatu malam YOA bermimpi dia di hampiri kucing hitam saat tertidur, sangkucing pun terus memperhatikan YOA hingga sang kucing naik keatas kursi dan tertidur… entah itu adalah pertanda atau hanya sekedar mimpi biasa. Namun ketika dia bermimpi dia di bangunkan oleh seseorang pada pukul 2 malam, ternyata sang ibu telah meninggalkan dia untuk selamanya, sontak YOA pun menangis dan sangat sedih melihat ibunya telah tiada, dia menangis tanpa henti sedih ditinggal seorang ibu untuk selamanya.

YOA kecil YOA yang malang sabar nak.

(Bersambung ke part 2)

(Cerita nyata tentang perjalanan hidup si bocah YOA Part 2)