Cerita nyata tentang perjalanan hidup si bocah YOA (Part 3)

Posted on

BERJUANG MENUJU SMA

Yoa Sudah semakin dewasa ternyata tak terasa dia akan memasuki masa remajanya. Dalam masa remajanya dia melihat teman-teman SMP pada sibuk memilih SMA Favourite mereka, dia pun terlihat seperti bingung karena akan dapat biaya dari mana untuk mengikuti pendaftaran ke SMA.

seperti biasa dengan wajah polos dia seperti yang acuh tak acuh, saya sempat berfikir apakah dia tak ingin masuk sekolah SMA seperti teman-teman lainnya?? ah sudah lah saya pun tak bisa berbuat apa-apa hanya dapat melihat dan memperhatikan dia.

Waktupun berlalu kehidupan YOA pun berlanjut, yoa menikmati masa liburan nya kebanyakan dia bermain bola dan kebetulan dia mengikuti sekolah sepak bola di kota itu semenjak kelas 2 SMP ceritanya saya singkat sih. Tibalah saat dimana masa pendaftaran sekolah SMU, teman2 seumuran dia sibuk membicarakan sekolah SMA mereka, YOA terlihat sedih sih tapi itu bukan teroancar dari wajahnya tetapi dari perasaan saya yang melihat anak seusia dia yang benar-benar pingin sekolah seperti anak lain tetapi tak ada biaya. ayahnya seperti biasa kerja serabutan dan satu2 nya paman dia yang selalu mendukung dia untuk bersekolah dan selalu membiayai telah tiada lagi di dunia.

akhirnya masa itupun lewat orang lain sudah pada berseragam SMA sedangkan YOA dia tidak mendaftar sekolah karena tak ada biaya, saya perhatikan dia dan bertanya dalam hati, sekarang apa yang akan dia lakukan.

setelah beberapa minggu kemudian saya baru melihat lagi YOA ternyata dia bekerja di salah satu Rental playstation sebagai penjaganya, dalam hati saya berkata syukurlah dia ada kegiatan plus saya salut dia memiliki fikiran bekerja dan mau bekerja di usia seperti itu yang sedang semangat-semangatnya bersekolah dan bergaul dengan teman-teman. dengan jam kerja yang cukup padat kok bisa yah dia bekerja pagi pulang malam sehingga tak ada waktu untuk bermain. hmm saya rasa dia betah karena ada hiburan di sela-sela jenuh bekerja sekaligus dia dapat bermain game.

saya sempat berkunjung dan bermain disana sekalian ingin menyapa dia, dan akhir nya terjadilah perbincangan, dia pun menjawab setiap pertanyaan dalam obrolan saya bersama dia. Dia digajih murah sekali diapun tak mempermasalahkannya dia hanya berkata yang penting ada tempat saya buat tidur dan dapat makan. hmmmm alangkah beruntung nya saya di banding YOA bocah yang tegar ini. dari situ lama saya tak bertemu karena ada kerjaan jauh juga, setelah saya kembali setahun kemudian dalam suasana ramadhan saya bertemu dia kembali, alamak dia masih bekerja menjadi penjaga rental itu saya pun melanjutkan perbincangan dengan dia, dia pun mengucapkan satukata yang saya tanya kepada dia, dia berkata Dia ingin sekali bersekolah!!, ternyata di balik wajah yang cuek seperti mau tak mau dia memiliki keinginan yang sangat besar, dia pun ternyata menabungkan semua hasil kerja dalam sebuah celengan!!. dia berkata akan ku pecahkan celengan itu ketika masa pendaftaran sekolah tiba.

ya tuhan dia benar-benar anak yang mandiri hingga sekolah pun dia mau menabung dengan uang sendiri dengan se usia seperti dia itu. saya pun tak lupa mengucap syukur atas keadaan saya dulu tak seperti dia, entah jika itu terjadi kepada saya mungkin saya tak bisa seperti dia, punya uang langsung saya belanjakan untuk modal bergaya. beda dengan YOA dia memiliki visi dan kemauan yang kuat.

Akhirnya tibalah saya berangkat untuk bekerja kembali dan setahun pun takterasa terlewati kembali. pada tahun berikutnya saya kembali pada suasana bulan ramadhan dan berlebaran di tempat asalku dan tempat asal YOA. akhirnya saya melihat YOA semakin dewasa hehe saya lihat dari tampangnya sih. saya pun menyapa dia,

saya : “hai YOA apakabar kamu”

YOA : “baik kak!”

saya : “wah sepertinya kamu sudah mulai bersekolah nih hehe, dimana sekolah mu?”

saya kaget YOA tiba-tiba menundukan kepalanya, wah ada apa nih kok kayak yang tidak senang dia bersekolah, saya heran hingga dia akhirnya menjawab dia gagal lagi untuk bersekolah dan diapun bercerita panjang ketika dia memecahkan celengan uang tersebut di pinjam ayahnya hingga pada saat pendaftaran tiba uangpun tak terganti. tetapi dia hanya menjawab “sudah tak apa2 kak bapaku sangat membutuhkannya”.

YA TUHAN YOA saya pun tadinya agak kesal kepada bapak dia tetapi anaknya sendiri tak ada rasa sesal atau marah kepada bapaknya saya pun jadi malu masasih saya orang lain marah sedangkan anaknya sendiri tak marah sedikitpun.

loading...